5 Cara Hindari Kambuhnya Gejala GERD Saat Berpuasa

06/05/2020, 18:00 WIB
Bagikan:
Penulis Fellycia Novka Kuaranita | Editor Mahansa Eka Gerga Sinulingga

Orang yang memiliki keluhan GERD biasanya kerap khawatir gejala naiknya asam lambung akan kambuh ketika berpuasa. Bagaimana kiat agar berpuasa lancar dan nyaman?

Gastroesophageal reflux disease (GERD) yang juga umum dikenal sebagai keluhan asam lambung jamak dialami orang Indonesia. Ini adalah penyakit pada saluran pencernaan, ketika terjadi refluks atau naiknya kembali asam dari lambung ke kerongkongan.

Gejalanya cukup beragam, antara lain adanya rasa terbakar di dada yang menjalar ke kerongkongan, keluhan sulit menelan, batuk-batuk, suara serak, mual, serta sensasi rasa asam atau pahit di mulut. Terlambat makan atau mengonsumsi kopi, alkohol, dan makanan-makanan berlemak dapat memicu refluks asam lambung ini.

Lantas, apakah aman bagi orang dengan keluhan GERD untuk berpuasa? Menurut dr Amalia Primahastuti MGizi SpGK, orang yang memiliki riwayat GERD masih dapat berpuasa dengan sebelumnya berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu. Ada juga beberapa tips yang dapat diikuti untuk mencegah kambuhnya GERD ketika berpuasa.

Kenali makanan pemicu GERD

Ini penting sebagai langkah antisipatif. Dokter Amalia menjelaskan, secara umum, jenis makanan yang perlu dihindari adalah makanan bergas, bersifat asam, pedas, berbumbu tajam, atau minuman berkafein. “Namun, jenis makanan pemicu GERD dapat berbeda-beda pada tiap individu. Oleh karena itu, sebaiknya orang dengan GERD memiliki daftar makanan yang menimbulkan keluhan bagi dirinya.”

Batasi konsumsi makanan berminyak atau tinggi serat

Makanan yang berlemak dan tinggi serat membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna. Oleh karenanya, jenis makanan ini pun akan lebih lama berada di lambung. Lantaran berada di dalam perut dalam waktu yang lebih panjang, makin banyak pula asam lambung yang akan dihasilkan untuk membantu mencerna makanan tersebut. Hal ini menyebabkan risiko naiknya asam lambung ke kerongkongan lebih tinggi lagi. Pada waktu sahur dan berbuka puasa, makanan berminyak atau tinggi serat masih bisa dikonsumsi, asal dalam jumlah moderat.

Hindari makan dalam porsi besar saat buka puasa

Rasa lapar menjelang matahari terbenam kadang-kadang mendorong kita untuk makan sekaligus banyak pada saat berbuka. Ini harus dihindari. Upayakan berbuka puasa dengan porsi wajar dan bertahap. Anda bisa membaginya misalnya menjadi 3 kali makan dengan jeda. Kudapan ringan yang bisa mengembalikan energi ketika berbuka puasa, makan malam setelah shalat, dan camilan seperti biskuit atau buah-buahan satu jam setelah makan malam. Makanlah dengan perlahan. Minum juga jangan terburu-buru. Habiskan misalnya 500 ml air dalam waktu satu jam.

Jangan langsung tidur setelah sahur

Langsung berbaring setelah makan atau minum juga memicu naiknya asam lambung ke kerongkongan, terlebih setelah makan dalam porsi banyak. Penyebabnya, karena tekanan di dalam lambung meningkat. Oleh karena itu, sebaiknya kita memang tidak langsung tidur setelah sahur, apalagi jika memiliki gangguan GERD.

Kelola stres

Selain makanan, stres juga memicu asam lambung naik lebih cepat dan hormon tidak seimbang. Oleh karena itu, amat penting untuk mengelola kondisi psikologis kita, terlebih di masa pembatasan sosial karena pandemi Covid-19 ini. Cari cara untuk mengelola stres, misalnya dengan melakukan hobi, berolahraga, menonton film, atau bermain gim. Dapat pula mempelajari teknik relaksasi atau meditasi agar kesehatan mental tetap terjaga.