Iktikaf 10 Hari Terakhir Ramadhan, Bagai Beriktikaf Bersama Rasullullah SAW

18/05/2020, 21:33 WIB
Bagikan:
Penulis Anggara Wikan Prasetya | Editor Alia Deviani

Sayang rasanya jika 10 hari terakhir bulan Ramadhan tidak dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebab, pada rentang waktu inilah Anda berkesempatan untuk mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadar.

Lailatul Qadar sendiri merupakan malam diturunkannya ayat-ayat pertama Al Quran kepada Nabi Muhammad SAW. Disebutkan bahwa malam yang sangat istimewa ini memiliki kebaikan lebih dari 1.000 bulan atau setara dengan 83 tahun.

Tidak ada tips khusus dalam meraih malam Lailatul Qadar, tetapi Anda dianjurkan untuk giat beribadah, mulai dari rajin shalat wajib dan sunnah hingga memperbanyak baca Al Quran. Namun, alangkah baiknya jika Anda meluangkan waktu untuk beriktikaf, yaitu berdiam diri di masjid disertai niat. 

Iktikaf pada malam 10 hari terakhir memiliki keistimewaannya sendiri. Bahkan, Nabi Muhammad SAW dalam satu hadist-nya mengatakan bahwa iktikaf di 10 hari terakhir Ramadhan bagaikan beriktikaf bersama beliau.

"Siapa yang ingin beriktikaf bersamaku, maka beriktikaflah pada sepuluh malam terakhir (Ramadhan)" (Hadist Riwayat Ibnu Hibban).

Selain shalat malam, ada sejumlah bentuk ibadah yang bisa Anda lakukan, seperti berzikir, bermuhasabah, mengingat hari akhir, dan mendengarkan ceramah ilmu agama.

Untuk melaksanakan iktikaf, Anda bisa memulainya dengan mengucapkan niat "Nawaitu al-i'tikafa fi hadza al-makani lillahi ta'ala" atau sesederhana "aku berniat iktikaf di masjid ini karena Allah".

Kemudian, Anda harus bangun pada pukul 01.00 dini hari untuk berwudhu dan melakukan rangkaian shalat malam, seperti shalat tahajud, shalat taubat, dan shalat hajat. Setelah itu, Anda bisa bermunajat, berzikir, dan membaca Al Quran pada jam puncak iktikaf, yaitu pada pukul 02.00 - 03.00 dini hari.

Apabila tidak sanggup melakukannya selama 10 hari berturut-turut, maka Anda bisa melaksanakannya setiap malam ganjil menjelang berakhirnya bulan Ramadhan.

Bolehkan iktikaf di rumah?

Selama ini, iktikaf memang dilakukan di masjid. Namun, Ramadhan tahun ini menjadi berbeda karena adanya pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona.

Kondisi tersebut membuat Majelis Ulama Indonesia sepakat mengimbau masyarakat untuk beribadah di rumah saja. Ibadah yang dimaksud meliputi shalat fardhu berjamaah, shalat jumat, shalat tarawih, dan bahkan shalat Idul Fitri.

Lalu, bagaimana dengan iktikaf? Beberapa ulama berpendapat bahwa iktikaf boleh dilakukan di rumah karena hukumnya sunnah atau tidak diwajibkan.

Sementara itu, shalat sunnah, terutama bagi laki-laki paling utama adalah yang dilakukan di rumah, sehingga iktikaf mestinya sama dengan ibadah shalat sunnah. (Syekh Abdul Karim bin Muhammad ar-Rafi’i, al-Aziz Syarg al-Wajiz, huz 6, halaman 503)

Adapun, iktikaf di rumah bisa dilakukan di ruangan khusus yang diperuntukkan untuk shalat, yakni masjid al-bait (masjid rumah) atau mushala rumah.

Dengan demikian, boleh atau tidaknya iktikaf dilakukan di rumah merupakan persoalan khilafiyah atau ada ragam pendapat.

Dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti ini, akan lebih baik jika Anda menghindari risiko tertular dan menularkan dengan beriktikaf di rumah. Meski demikian, saat kondisi sudah kembali normal, hendaknya iktikaf kembali dilakukan di masjid.