Mengapa Sebaiknya Tidak Mudik Lebaran Selama Pandemi?

18/05/2020, 20:10 WIB
Bagikan:
Penulis Alek Kurniawan | Editor Dana Delani

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah melarang seluruh warga untuk melakukan mudik ke kampung halaman. Warga yang dilarang mudik tersebut ialah mereka yang berasal dari daerah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) serta daerah zona merah Covid-19 lainnya.

Melansir Kompas.com, Rabu (22/4/2020), Jokowi beralasan masih banyak masyarakat perantauan yang bersikeras untuk mudik.

Dari data Kementerian Perhubungan (Kemenhub), sebanyak 24 persen masyarakat memutuskan tetap mudik. Hal ini dikhawatirkan akan menjadi medium penularan Covid-19 di desa-desa sebab para perantau dianggap merupakan orang yang tinggal di episentrum virus corona di Indonesia.

"Artinya masih ada angka yang sangat besar yaitu 24 persen tadi," ujar Jokowi.

Adapun sebanyak 68 persen masyarakat memutuskan tidak mudik dan 7-8 persen sudah mudik ke kampung halaman.

Lalu, mengapa sebaiknya kamu tidak perlu melakukan mudik Lebaran sementara waktu selama pandemi?

Secara harfiah, mudik adalah kegiatan perantau kembali ke kampung halamannya (udik). Kata “mudik” juga merupakan singkatan dari mulih dhilik yang artinya adalah pulang sebentar.

Jadi, mudik berarti berpindahnya seseorang dari kota untuk pulang ke desa. Kegiatan ini jelas berlawanan dengan semangat untuk tetap berada di rumah masing-masing guna memutus mata rantai persebaran virus corona.

Dalam konteks pandemi, hal tersebut berlawanan karena makna merumahkan sesuai domisili adalah imobilisasi. Imobilisasi ini fungsinya adalah menekan risiko penularan.

Kemudian, apa dampak yang dikhawatirkan bila orang-orang tetap melakukan mudik?

Melansir Kompas.com, Jumat (24/4/2020), bahayanya adalah perluasan sebaran Covid-19. Nantinya, akan terjadi pergeseran penyakit dari kota ke desa dan dari zona merah menuju zona yang relatif aman.

Hal itu tentu mencemaskan karena penelurusan rantau penularan akan semakin sulit.

Covid-19 pun akan menjadi kian tidak terkendali. Mata rantai penularan menjadi sulit diputus karena penyakit telah meluas secara masif.

Oleh karena itu, larangan mudik ini dilakukan untuk kebaikan bersama. Jadi, sebaiknya kita mengikuti peraturan ini agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.