Batin Bagaikan Kera

19/05/2020, 10:07 WIB
Bagikan:
Penulis Admin | Editor Admin

  

 

Langit senantiasa jernih dan tidak terpengaruh oleh apa yang sedang terjadi.

Awan datang dan pergi, angin datang dan pergi, demikian pula hujan dan sinar mentari,

Namun langit tetap jernih”

~ Joseph Goldstein

 

Cobalah untuk duduk diam tanpa melakukan apapun dan juga tidak berpikir tentang apapun selama beberapa menit. Kebanyakan dari kita akan mendapatkan batinnya berkelana ke sana ke mari. Terkadang, batin seperti sibuk dengan satu topik khusus, sementara di waktu lainnya, batin sekedar berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Seperti kera, batin ini melompat dari satu cabang pohon ke cabang lainnya, tiada henti. Batin seperti ini kerap disebut monkey mind, atau batin yang seperti kera.

Melewatkan waktu tanpa melakukan apapun dan tidak berpikir tentang apapun selama beberapa menit umumnya kita kenal sebagai latihan yang disebut meditasi. Biasanya, meditasi diajarkan sebagai latihan untuk memusatkan perhatian hanya pada nafas dan tidak ada obyek lainnya. Pemusatan pikiran seperti ini memiliki efek menenangkan. Akan tetapi, gambaran demikian mengenai meditasi seringkali tidak sesuai dengan kenyataan bahwa batin kita berperilaku seperti kera. Hal ini membuat frustrasi banyak orang yang berupaya untuk belajar bermeditasi.

Sayangnya, jarang disampaikan bahwa latihan meditasi adalah suatu latihan di mana kita terus-menerus mengembalikan perhatian kita kepada obyek kesadaran pada suatu waktu. Obyek ini dapat berupa nafas, atau yang lainnya. Batin yang tenang dan terpusat adalah suatu kondisi meditatif yang muncul dari latihan meditasi, dan bukan latihan itu sendiri. Untuk mencapai batin yang terpusat, kita perlu berlatih.

Bagi kebanyakan dari kita, kita merasa sangat terganggu dengan monkey mind karena dua hal.

Pertama, kita sangat ingin agar batin kita tidak berlaku seperti kera. Padahal kenyataan yang ada adalah, batin ini memang seperti kera, dan sebagaimana kera, batin tersebut tidak akan menuruti perintah kita untuk menjadi tenang dan diam. Ini menyebabkan konflik internal antara apa yang kita inginkan dengan apa yang terjadi.

Kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa gerak aktif dari monkey mind dipengaruhi oleh tingkat kesibukan dan stress kita, serta kualitas dan kuantitas istirahat kita sendiri. Ketegangan dan juga kesibukan kita memberikan energi bagi monkey mind. Jika kita tidak ingin batin kita terus melompat seperti kera, sebaiknya kita juga tidak sibuk bergerak ke sana ke mari. Pergerakan ini bukan hanya pergerakan  secara fisik, melainkan juga termasuk pergerakan kita mengikuti setiap tayangan di media sosial.

Apa yang harus kita lakukan terhadap monkey mind? Pertama-tama, Berhentilah menyuruh ‘kera’ itu untuk duduk diam, sebab melompat dari satu cabang ke cabang lain adalah hal alamiah yang dilakukan olehnya, BUKAN duduk diam. Alih-alih, kita bisa berlatih menjadi pengamat yang pasif, mengamati apapun yang muncul dalam batin kita, baik atau buruk, seperti kita mengamati kera yang melompat dari satu cabang pohon ke cabang lainnya. Sebagai seorang pengamat, kita tidak ikut melompat bersama dengan kera. Kita juga tidak menjadi kesal apabila kebetulan kera itu berada di cabang pohon yang tidak kita sukai. Kita mengamati dengan pasif hingga batin ini lelah melompat, atau hingga tidak ada lagi cabang pohon yang bisa diraih. Pada saat inilah, batin akhirnya akan menjadi diam.

Ada pepatah kuno Zen yang mengatakan: “Anda harus duduk bermeditasi selama dua puluh  menit setiap hari – kecuali jika anda terlalu sibuk, maka anda harus duduk bermeditasi selama satu jam.”

Terkadang, batin yang seperti kera ini membawa perasaan yang terlalu kuat sehingga kita larut di dalamnya. Pada waktu seperti ini, tidaklah mudah menjadi seorang pengamat yang pasif. Untuk ini, kita bisa memberikan monkey mind sesuatu untuk dilakukan selama beberapa waktu, misalnya menghitung nafas, atau mengatur nafas dalam ritme tertentu. Latihan-latihan dengan nafas biasanya menenangkan. Setelah lebih tenang, kita dapat kembali berlatih menjadi pengamat.

Kedua, jika kita kebetulan sedang memiliki suatu masalah yang sangat mengganggu, batin yang seperti kera ini, entah kenapa cenderung untuk bergerak di seputar masalah tersebut. Meskipun kita berusaha untuk tidak memikirkannya, atau berusaha untuk tidak merasakannya, namun masalah tersebut justru selalu muncul dalam benak. Pada kondisi ini, latihan meditasi bukannya membuat tenang, malah menambah rasa stress.

Jika ini terjadi, kita bisa mencoba berlatih menjadi sahabat bagi batin kita sendiri. Sebagian besar dari isi pikiran kita yang penuh dengan kritik dan penilaian atas pikiran dan perasaan kita sendiri, juga rasa tidak suka pada kondisi batin kita, bukanlah sesuatu yang akan kita lakukan atau katakan kepada seorang sahabat. Seorang sahabat akan bersikap baik, dan bersikap baik sama dengan bersikap penuh pengertian, menerima dan juga mendukung. Dengan kata lain, penuh welas asih.

Jadi, kita berlatih dengan melakukan hal yang sama terhadap monkey mind. Biarkan ia bergerak ke sana ke mari, bicara tak henti tentang kisah yang tidak ingin kita dengar, ketakutan yang ingin kita sembunyikan, juga duka yang tak ingin kita lepaskan. Meskipun terkadang masih tetap muncul rasa ingin memaksa agar batin ini diam, kita tetap membiarkan monkey mind dengan hati yang terbuka dan penuh dengan welas asih. Kita tetap bersamanya seperti apa adanya dan berdamai dengan apapun yang dipikirkan dan dirasakannya.

Inilah latihan meditasi yang sesungguhnya.

Ketika kita memberikan sahabat kita, batin yang seperti kera, sebuah ruang baginya untuk diam ataupun bergerak ke sana ke mari, kita belajar banyak tentangnya, dan juga tentang keberadaan kita. Dalam pemahaman ini, kita bisa menjadi lebih damai dengan diri kita sendiri, kapanpun, di manapun.

 

“Bagaimana saya dapat membantu dunia?”

“Dengan memahaminya,” kata Sang Guru.

“Dan bagaimana saya memahaminya?”

“Dengan berpaling darinya.”

“Bagaimana saya dapat melayani kemanusiaan?”

“Dengan memahami dirimu.”

~ Anthony de Mello