Libur Lebaran di Rumah Saja, Mengapa Tidak Berlatih Praktik Mindfulness untuk Mengembalikan Ketenangan?

22/05/2020, 17:30 WIB
Bagikan:
Penulis Agung Dwi Ertato | Editor Agung Dwi Ertato

 

Pembatasan fisik atau physical distancing menjadi cara terbaik untuk menekan penyebaran Covid-19. Sebab, hingga saat ini, belum ada vaksin maupun terapi obat yang dianggap tepat untuk pasien terkonfirmasi Covid-19.

Meski dianggap sebagai cara terbaik, pembatasan fisik dengan karantina mandiri di rumah ternyata juga berdampak terhadap kondisi psikologis.

Berdasarkan riset yang dipublikasikan di Jurnal The Lancet, orang yang menjalani karantina mandiri cenderung memiliki masalah psikologis, seperti stres, cemas, sedih, kesepian, takut, frustrasi, dan khawatir berlebihan.

Masalah tersebut bisa bertambah pelik akibat arus informasi yang deras mengenai gejala Covid-19 dan pertumbuhan jumlah pasien terkonfirmasi positif. Ditambah lagi, dengan banyaknya informasi yang belum jelas kebenarannya dan tersebar cepat melalui media sosial.

Lantas, bagaimana caranya agar dapat mengurangi rasa cemas saat menjalani karantina mandiri selama pandemi Covid-19?

Melansir Vox.com, Tara Brach, seorang psikolog di Amerika, menyarankan untuk menjalani praktik mindfulness atau berkesadaran selama beraktivitas di rumah. Praktik ini dapat menenangkan sistem otak yang mengatur rasa cemas.

Praktik berkesadaran, imbuh Tara, juga dapat digunakan untuk mendukung perbaikan mental dan fokus. Kita pun jadi lebih sadar akan diri sendiri, orang lain, dan dunia sekitar.

Berlatih praktik berkesadaran dengan meditasi

Praktik berkesadaran ini bisa dilakukan dengan cara meditasi maupun tanpa meditasi. Namun umumnya, berlatih praktik berkesadaran ini selalu diawali dengan meditasi.

Jon Kabat-Zinn, seorang ilmuwan yang memopulerkan praktik mindfulness di dunia Barat menjelaskan, saat melakukan meditasi berkesadaran, kita sedang melatih pikiran kita untuk memusatkan perhatian.

“Saat kita duduk, menutup mata, dan fokus pada pernapasan, kita dapat menyadari pikiran-pikiran kita yang sedang berlalu-lalang. Lalu, kita pun bisa mengembalikan pikiran kita tersebut dengan memusatkan perhatian pada olah napas,” kata Kabat-Zinn, seperti dikutip dari Vox.com.

Kombinasi latihan olah pernapasan dan pemusatan pikiran tersebut menjadi dasar latihan meditasi berkesadaran. Latihan ini terkesan sangat sederhana, tetapi efek yang dihasilkan dalam latihan ini sangat efektif dalam mengembalikan ketenangan.

Efek positif tersebut dibuktikan dalam penelitian ilmiah. Berdasarkan riset yang dimuat di jurnal Frontiers in Human Neuroscience pada 2012, praktik meditasi berkesadaran minimal 10-20 menit dalam sehari dapat menurunkan aktivitas otak di bagian amigdala.

Perlu diketahui, amigdala akan bereaksi bila otak sedang mendeteksi bahaya. Bagian amigdala ini pula yang memproduksi hormon pemicu stres seperti kortisol. Ini artinya, dengan meditasi berkesadaran, kita bisa mendapatkan rasa tenang dan perasaan yang lebih positif karena hormon kortisol sedikit diproduksi.

Susan Peacock, seorang psikolog yang aktif di Oxford Mindfulness Center, menjelaskan, untuk mendapatkan manfaat yang lebih maksimal, meditasi berkesadaran harus dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Hal ini agar kita membiasakan otak untuk tetap fokus dengan apa yang terjadi saat ini.

“Semakin banyak berlatih, semakin besar pula manfaat yang didapat,” jelas Susan, seperti dikutip dari Kompas.com.

Latihan praktik berkesadaran dalam kehidupan sehari-hari

Selain dengan meditasi, praktik berkesadaran bisa juga dilakukan sembari berkegiatan sehari-hari di rumah. Kuncinya, hampir mirip dengan praktik meditasi, yakni fokus pada kegiatan yang dilakukan di rumah. Contohnya, saat sedang makan, kita hanya fokus dengan makan dan tidak melakukan kegiatan lain seperti bermain ponsel.

Susan punya kiat untuk melakukan latihan berkesadaran sembari berada di rumah selama pandemi Covid-19. Berikut ini rincian kiat tersebut.

  • Curahkan perhatian ke pernapasan ketika pertama kali bangun di pagi hari sebelum kita beranjak dari tempat tidur, hanya perhatikan napas.
  • Perhatikan perubahan dalam postur tubuh. Sadarilah bagaimana perasaan tubuh dan pikiran ketika kita bangun dari meja atau berjalan di luar kantor. Ini akan membantu membawa kesadaran pada transisi kita.
  • Luangkan waktu untuk memperhatikan rasa, tekstur, dan bau saat makan atau minum. Pikirkan dari mana makanan itu berasal dan semua koneksi yang telah dibuat sebelum makanan tersebut terhidang untuk kita. Setelah itu, rasakan kenikmatan rasanya.
  • Perhatikan gerakan tubuh saat berjalan atau berdiri. Rasakan udara di wajah, lengan, dan kaki saat berjalan. Lakukan dengan perlahan.
  • Setelah mempraktikkan semua hal tersebut, rasakan kembali apakah pikiran dan jiwa kita benar-benar hadir untuk melanjutkan aktivitas.

Selain latihan tadi, Anda juga bisa belajar mandiri secara intens setiap akhir pekan bersama Senantiasa Berada (www.senantiasaberada.com) di halaman www.terhubungdarirumah.com/berkesadaran. 

Namun, sepanjang libur Idul Fitri kelas webinar Berkesadaran sementara akan berlibur juga. Oleh sebab itu, bagi Anda yang inngin belajar mandiri, dengan podcast, baca artikel, dan saksikan sesi webinar minggu-minggu sebelumnya di www.terhubungdarirumah.com/berkesadaran

Anda juga bisa membuka situs web www.senantiasaberada.com. Di situs tersebut, Anda mendapatkan inspirasi latihan, seperti Yoga Nidra dan Silent Sitting. Senantiasa Berada juga menyediakan file audio untuk memandu latihan berkesadaran.