Corona Pasti Berlalu, Ini Hikmah di Balik Pandemi Covid-19

29/05/2020, 16:18 WIB
Bagikan:
Penulis Yakob Arfin Tyas Sasongko | Editor Mikhael Gewati

 

Virus Corona atau Covid-19 telah melanda negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Selain menyebabkan kasus kematian, Covid-19 juga memaksa pemerintah melakukan berbagai strategi agar perekonomian tak tergerus.

Supaya penyebaran virus corona tak semakin meluas, sejumlah kebijakan juga telah diterapkan seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga larangan mudik lebaran tahun 2020.

Berbagai aktivitas di sejumlah sektor juga didorong agar dilakukan dari rumah baik itu sekolah, bekerja, dan beribadah.

Terbatasnya aktivitas sosial akibat adanya seruan pembatasan jarak sosial (social distancing) dan jarak fisik (physical distancing) menyebabkan masyarakat jenuh sekaligus mengeluh kapan pandemi tersebut berakhir.

Meski demikian, diyakini pula bahwa tak selamanya wabah Covid-19 membuat dunia menjadi suram. Jika merenungkan kembali kasus ini lebih dalam, ternyata ada hikmah yang bisa dipetik.

Gaya hidup lebih sehat

Sebelum Covid-19 mewabah, menjaga kesehatan bukan menjadi agenda utama masyarakat. Sebagian orang masih mengabaikan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Hal itu diakui Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Husein Habsyi, seperti dilansir dari Kompas.id.

Husein mengatakan sebagian orang mengabaikan PHBS karena terimpit beban pekerjaan, ekonomi, atau sekadar tidak punya kesadaran menjaga kesehatan dari hal kecil.

Padahal, PHBS merupakan benteng terdepan untuk melindungi kesehatan tubuh, antara lain mencuci tangan dengan sabun serta menerapkan etika batuk dan bersin.

“Ada hikmah yang luar biasa dari wabah yang terjadi. Baru kali ini semua aspek masyarakat dan pemerintah sama-sama membicarakan masalah kesehatan. Masyarakat jadi yakin bahwa hidup sehat adalah pertahanan diri yang kuat,” kata Husein.

Sheila (24) misalnya, mahasiswa magister di Australia ini mengubah gaya hidupnya setelah virus corona baru (SARS-CoV-2) merebak. Ia yang semula hidup biasa-biasa saja kini lebih memperhatikan kesehatan.

“Teknik cuci tangan yang benar sudah dilakukan sejak dulu. Tapi, sekarang aku jadi lebih sering dan lebih lama cuci tangan dibandingkan dulu,” katanya.

Skill bidang Informasi dan Teknologi (IT) bertambah

Sejak diberlakukannya PSBB, sistem belajar juga ikut berubah dan beralih ke pembelajaran daring.

Pengamat Pendidikan Universita Muhammadiyah Surakarta Prof. Dr. Harun Joko, M.Hum menilai dampak positif pembelajaran daring adalah meningkatnya literasi IT.

Kondisi tersebut memaksa para pengajar untuk berstrategi menyiapkan cara belajar yang efektif berbasis teknologi digital.

Sistem belajar berkonsep terhubung dari rumah itu juga mendorong para orangtua untuk ikut aktif terlibat memastikan putra-putrinya mendapatkan materi pelajaran secara efektif.

Meski demikian Harun juga menjelaskan beberapa pembelajaran penting yang tidak bisa digantikan oleh teknologi secanggih apapun.

Di antaranya yakni literasi pendidikan budi pekerti, kompetensi sosial, literasi pendidikan karakter, dan literasi pendidikan kewarganegaraan.

Skill memasak meningkat

Berada di rumah saja selama masa pandemi Covid-19, mendorong masyarakat mencari referensi kegiatan yang bisa dilakukan di rumah untuk membunuh kebosanan.

Salah satu aktivitas yang efektif menggeser rasa jenuh adalah memasak. Apalagi saat ini semakin mudah ditemukan konten-konten tips memasak secara praktis di berbagai saluran Youtube channel.

Mulai dari cheff professional seperti Yongky Gunawan, celebrity cheff  Yuda Bustara, hingga jawara kontestan Master Cheff William Gozali.  

Selain untuk mengisi kegiatan, ternyata memasak juga efektif untuk menghemat dana rumah tangga agar tak selalu memesan makanan secara delivery.

Hubungan keluarga semakin baik

Perilaku masyarakat, khususnya para ibu, selama masa physical distancing di tengah pandemi Covid-19 mengalami perubahan.

Dikutip dari Kompas.com, Jumat (22/4/2020), survei dari platform parenting mengungkapkan bahwa selama lebih dari empat pekan di rumah memiliki efek terhadap dinamika hubungan dengan anak ataupun pasangan.

Survei tersebut menunjukkan kecenderungan bahwa selama di rumah dapat meningkatkan kualitas hubungan antara ibu dan anak maupun pasangannya. Hal ini disebabkan adanya rutinitas yang berubah dan kuantitas pertemuan yang lebih banyak.

Para working mom merasakan quality time dengan anak semakin bertambah, serta mempunyai waktu lebih banyak untuk melakukan hal lain seperti masak.

Hal tersebut dibarengi bertambahnya quality time bersama pasangan sekaligus merasa senang karena akhirnya ada yang membantu mereka melakukan pekerjaan rumah tangga.

Itulah empat hikmah yang bisa dipetik selama masa pandemi ini. Seburuk-buruknya sebuah keadaan, dibaliknya pasti ada hal positif yang dapat diresapi sehingga mampu membangkitkan optimisme bahwa wabah ini akan berlalu.