Belajar Hidup “Berdampingan” dengan Covid-19 dari Jerman

29/05/2020, 17:35 WIB
Bagikan:
Penulis Agung Dwi Ertato | Editor Sheila Respati

 

Istilah kenormalan baru atau new normal ramai diperbincangkan di Indonesia pada pertengahan Mei 2020, atau tiga bulan sejak kasus pertama Covid-19 terkonfirmasi.

Kenormalan baru ini disebut sebagai fase perubahan perilaku untuk kembali hidup normal, tetapi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Tujuannya, agar aktivitas ekonomi dan sosial berangsur pulih sembari menyesuaikan pola hidup untuk menekan penyebaran virus SARS-CoV-2.

“Secara sosial, kita pasti akan mengalami sesuatu bentuk new normal,” ujar Ketua Tim Pakar Gugur Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita, seperti diberitakan Kompas.com.

Presiden Joko Widodo pun sudah mulai meminta masyarakat untuk beradaptasi dengan kondisi baru ini. Dalam rapat bersama menteri, Senin (18/05/2020), Presiden meminta jajarannya untuk mengkaji secara cermat dan terukur kesiapan penerapan kenormalan baru ini.

Meski begitu, pemerintah belum memutuskan kapan bakal menerapkan kebijakan pelonggaran untuk implementasi kondisi kenormalan baru.

Selain di Indonesia, beberapa negara sudah lebih dulu mengimplementasikan fase kenormalan baru. Negara-negara tersebut umumnya menerapkan kebijakan agresif dalam menangani wabah Covid-19. Sebut saja Jerman, Vietnam, dan Selandia Baru.

Sebelum kita bersiap menjalani kenormalan baru, ada baiknya kita melihat kebijakan negara yang telah mempersiapkan perangkat dan kebijakan untuk hidup berdampingan dengan Covid-19 sampai obat dan vaksin bisa diciptakan. Salah satunya, kita bisa belajar dari Jerman.

Cara Jerman memitigasi wabah Covid-19

Jerman termasuk sebagai negara di Eropa yang memiliki kasus Covid-19 cukup besar. Hingga Selasa (19/05/2020), kasus positif virus corona tipe baru mencapai 177.620.

Jumlah tersebut menempatkan Jerman di urutan keenam se-Eropa setelah Rusia, Spanyol, Britania Raya, Italia, dan Prancis.

Meski lumayan tinggi, angka kesembuhan Covid-19 juga sangat tinggi. Dari jumlah sebesar itu, total 155.700 pasien dinyatakan sembuh. Total kasus aktif hanya 13.770 dan total pasien meninggal cuma 8.150.

Keberhasilan Jerman, seperti diberitakan The New York Times, merupakan buah kombinasi kebijakan manajemen risiko yang efektif.

Sebelum kasus pertama ditemukan pada pertengahan Februari 2020, pemerintahan Angela Merkel sudah menerapkan kebijakan agresif. Merkel mengedepankan sains dalam mengambil langkah-langkah strategis.

Tes Covid-19 juga sudah dipersiapkan sejak pertengahan Januari 2020. Artinya, sebelum kasus pertama terkonfirmasi, pemerintah Jerman sudah mengambil langkah agresif mempersiapkan infrastruktur tes dan fasilitas kesehatan.

Di pertengahan Februari, seluruh laboratorium di Jerman pun sudah memiliki alat tes virus corona baru. Rumah sakit juga sudah menambah kapasitas ruang ICU dan ventilator sejak Januari sebagai langkah antisipasi.

Kapasitas dan kecepatan tes di Jerman tergolong tinggi. Hingga awal Mei, Jerman telah melakukan 2 juta tes dengan kapasitas mencapai 142.000 per hari. Jumlah sebanyak itu masih terus digenjot. Targetnya, 900.000 hingga 4,5 juta tes dalam satu pekan.

Bukan cuma tes, Jerman juga melakukan penelusuran kontak dan pembatasan fisik secara tegas sejak kasus pertama dikonfirmasi.

Hasil kebijakan agresif ini luar biasa. Pada awal Mei, pasien terkonfirmasi positif mulai menurun tiap hari. Bahkan, menurun hingga di bawah 1.000 dalam satu minggu.

Jerman pun sudah memulai melakukan rapid test secara acak bagi warga untuk mengetahui rasio penularan yang kini berada di angka 0,7. Artinya, tiga orang yang baru terkonfirmasi positif hanya menularkan kurang dari dua orang.

“Kita bisa bilang, hari ini kita sudah melalui fase pertama pandemi. Namun, kita harus tetap waspada karena kita akan terus hidup berdampingan dengan virus ini untuk waktu yang cukup lama,” tutur Kanselir Merkel, seperti dikutip dari The New York Times, saat mengumumkan kebijakan relaksasi bertahap, 6 Mei 2020.

Keberhasilan kebijakan pembatasan fisik besar-besaran ini juga berkat paket stimulus ekonomi yang diluncurkan pemerintah Jerman. Mulai dari dukungan layanan kesehatan (3 miliar euro), program kredit khusus (100 miliar euro), relaksasi kredit bagi perusahaan besar (400 miliar euro), dan bantuan langsung bagi UMKM selama tiga bulan (15.000 euro).

Selain itu, Jerman juga menyediakan jaring pengaman sosial bagi warga terdampak. Di antaranya, potongan pajak bagi UMKM serta peningkatan tunjangan pengangguran dan tunjangan pekerja yang dirumahkan.

Berkat keberhasilan mitigasi tersebut, pemerintahan Merkel mulai merelaksasi pembatasan sosial, meski kebijakan itu tetap diperpanjang hingga 5 Juni 2020.

Minggu kedua bulan Mei, beberapa restoran, bar, dan pertokoan pun mulai dibuka dengan tetap memberlakukan protokol kesehatan ketat. Liga Jerman sudah kembali digulirkan mulai Sabtu (16/05/2020) saat liga-liga besar di Eropa masih diliburkan, meski tanpa penonton tentunya.

Sekolah secara bertahap akan kembali dibuka hingga liburan musim panas. Acara festival dan olahraga yang menghadirkan massa dengan jumlah besar siap dibuka di awal September.

Penutupan perbatasan Jerman pun bakal dicabut sepenuhnya pada 15 Juni mendatang. Saat ini, relaksasi perbatasan mulai dilakukan secara bertahap dan diawali dengan perbatasan Jerman-Austria.

Selain pelonggaran-pelonggaran tersebut, pemerintah Jerman tetap meningkatkan kewaspadaan. Jerman menerapkan “mekanisme darurat” bila terjadi lonjakan pasien di satu daerah.

Mekanisme tersebut berupa pengetatan kembali pembatasan fisik bila terdapat 50 kasus per 100.000 penduduk sepanjang satu minggu. Pengetatan baru dibuka kembali bila pasien positif kembali turun hingga di bawah 50 dalam 7 hari.

Tanggung jawab pengetatan maupun pelonggaran pun diserahkan kepada pemerintah negara bagian.

 “Bila kenaikan kasus terjadi secara lokal, kita tidak akan menunggu sampai kasus melebar ke seluruh Republik. Kita segera melakukan pengetatan secara lokal,” jelas Merkel.

Kenormalan baru di Jerman

Keberhasilan Jerman memitigasi wabah Covid-19 memudahkan warganya dalam menjalani kenormalan baru. Selama dua bulan menjalani karantina wilayah, masyarakat Jerman sudah mulai terbiasa memakai masker saat berada di luar rumah. Warga Jerman secara sadar mengambil jarak 1,5 meter agar tidak menularkan virus.

Warga Jerman juga sudah membiasakan pola hidup higienis. Cuci tangan kini sudah menjadi keharusan.

Pertokoan di Jerman kini secara sukarela menyediakan hand sanitizer di depan pintu masuk. Kasir pertokoan pun sudah memasang pembatas kaca dan memberi rambu di lantai untuk mengatur pembatasan fisik.

Karena kebiasaan bersih ini, masyarakat Jerman mulai beralih ke pembayaran nontunai. Padahal, orang Jerman dulu paling anti dengan pembayaran nontunai.

Kenormalan baru untuk restoran dan bar juga mulai diterapkan melalui protokol kesehatan ketat. Dua orang dalam satu meja di satu restoran atau bar kini dibolehkan dengan menerapkan jaga jarak aman.

Pelayan restoran pun diwajibkan menggunakan penutup muka dari mika, sedangkan koki dan kru dapur lain tidak diwajibkan. Restoran juga meminta pengunjung meninggalkan informasi kontak yang dapat dihubungi. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pelacakan bila terjadi kasus penularan baru.

Bioskop kendara (drive-in cinema) pun dihadirkan kembali di Jerman sebagai bentuk kreatif pengondisian kenormalan baru. Dengan bioskop kendara, orang bisa tetap menonton film tanpa takut terinfeksi virus.

Sekarang, seperti kita lihat, masyarakat Jerman sudah siap hidup berdampingan Covid-19. Kesiapan tersebut tercipta berkat kombinasi mitigasi dan manajemen risiko dari pemerintah Jerman. Selain itu, kerja sama seluruh elemen masyarakat di Jerman, dari pemerintah, warga, dan sektor swasta, turut mempercepat kesiapan Jerman.

“Bersama, kita bisa menang melawan Covid-19,” kata Lothar Wieler, Presiden The Robert Koch Institute (lembaga ilmiah untuk menangani dan mengontrol penyakit menular milik pemerintah Jerman). “Jika kita berhasil mempertahankan dengan baik, kasus positif akan tetap rendah.”

“Jaga jarak akan menjadi kebiasaan sehari-hari di kenormalan baru,” ia menambahkan.

Pemerintah Indonesia—dan kita sebagai warga negara—sepertinya harus belajar banyak dari Jerman untuk hidup berdampingan dengan Covid-19.

Sebelum relaksasi dan menjalani kenormalan baru, pemerintah harus menerapkan kebijakan agresif dalam memitigasi wabah dengan alat ukur yang dapat dievaluasi sebagai pijakan. Masterplan relaksasi bertahap harus disusun berdasarkan hasil evaluasi tersebut.

Kita pun harus terus disiplin menjalani protokol kesehatan dan hidup higienis serta menjadikan hal tersebut sebagai kebiasaan baru.