Berjarak dengan yang Baru dan yang Sudah

11/06/2020, 11:23 WIB
Bagikan:
Penulis Admin | Editor Admin

 

Berkesadaran adalah berlatih dan berserah menuju kondisi sadar di setiap saat, tempat, dan perannya. Berkesadaran mengelola keberadaan kita, mengelola ‘Yang Sudah dan Yang Belum’, serta mengelola peranti kita. Kali ini kita akan fokus kepada pengelolaan Yang Sudah dan Yang Belum.

Yang Sudah adalah sesuatu yang ‘sudah’ kita alami. Sebenarnya kita perlu berhati-hati dengan kata ‘sudah’. Karena ‘sudah’ dalam konteks ini lebih bermakna ‘pernah’, daripada bermakna ‘selesai’. Karenanya, kata ‘sudah’ penuh dengan ‘ke-belum-an’, sesuatu yang disadari bahwa kita ‘belum mencapai atau menyelesaikan apa-apa’. Dengan makna ini, maka mudah bagi kita untuk berjarak dengan kebiasaan dan keluarbiasaan, sesuatu yang pernah kita alami, tapi kita sadari bahwa kita belumlah selesai.

Kebiasaan adalah sikap, pola pikir, dan perilaku yang sudah terbiasa. Sebagaimana manusia, kita memerlukan hal ini, karena melakukannya tidak membutuhkan energi yang besar. Kita bisa menggunakan energi untuk melakukan hal-hal yang lainnya, dan tidak untuk kebiasaan ini. Dalam konteks berkesadaran, kita perlu memahami ini, termasuk juga adanya kebiasaan yang tidak disadari. Kebiasaan yang tidak disadari akan menghasilkan kemelekatan yang mendekatkan kita pada kemalasan.

Keluarbiasaan adalah persepsi bahwa kita telah berhasil mencapai sesuatu. Dalam konteks berkesadaran, keluarbiasaan membuka dua pintu. Pintu kebersyukuran karena kita ‘berhasil’ mencapainya, namun juga pintu kesombongan, karena kita juga ‘berhasil’ mencapainya’. Karenanya, Berkesadaran akan mengingatkan kita untuk biasa-biasa saja akan keluarbiasaan.

Selain ‘Yang Sudah’, kitapun akan sering terlingkupi dengan ‘Yang Belum’. Dalam konteks Berkesadaran, Yang Belum memberikan harapan dan jika tidak disadari akan memberikan keharusan. Berkesadaran akan mengingatkan bahwa sebaik-baiknya berharap adalah menjadi bagian dari harapan itu sendiri, dan menyerahkan harapan itu kepada Semesta, tanpa bermalasan, tanpa mengharuskan.

Ketika kita kian sadar akan ‘Yang Sudah’ dan ‘Yang Belum’, kita kian berjarak akan keduanya. Keduanya penting, namun juga tidak penting. Kita akan berjarak dengan keduanya, menyadari dengan penuh pintu-pintu yang dibukakannya secara antagonis.

Kian kita berjarak dengan ‘Yang Sudah’ dan ‘Yang Belum’, kian kita mudah merasakan kebaruan. Bahkan, kian kita berjarak dengan ‘Yang Sudah’ dan ‘Yang Belum’, kian kita mudah bersyukur atas kesempatan yang dianugerahkan di setiap kebaruan, dan kian kita mudah berserah akan atas perjalananan mengelola kesempatan itu. Dengan demikian, kebaruan adalah hal yang normal dan juga hal yang sakral.