Mahir Itu Sikap Bukan Sertifikat

18/06/2020, 16:28 WIB
Bagikan:
Penulis Admin | Editor Admin

 

Sebagian melihat kemahiran sebagai titik akhir, atau tujuan. Dengan berkesadaran, kita kian jernih melihat bahwa kemahiran adalah kondisi, dan semua kondisi bukan untuk diraih.

Semua kondisi ‘ada disana’, dan kita hanya memantaskan diri - berlatih dan berserah mendekati kondisi itu. Sehingga, Berkesadaran akan senantiasa mengingatkan kita bahwa kemahiran adalah perjalanan yang tak pernah selesai.

Sebagian juga melihat bahwa kemahiran perlu bukti. Ada yang perlu membuktikan dengan karya, ada yang perlu membuktikan dengan dampak, dan ada pula yang perlu membuktikan dengan sertifikat. Semuanya baik, sebagaimana apapun juga baik.

Namun dengan berkesadaran, kita akan berjarak dengan definisi dari kata-kata itu. Memang benar, Berkesadaran akan membuat kita cenderung berjarak dengan definisi. Mari kita ulas satu persatu.

Mahir adalah berkarya. Tentunya memang demikian. Kemahiran terlihat dari karya. Namun berkesadaran akan mengingatkan bahwa karya juga diizinkan.

Kita berupaya, tapi perlu sedikit berhati-hati untuk menyatakan bahwa ‘ini adalah karya saya’. Tidak pernah ada, dan tidak akan pernah ada karya hasil kerja sendiri. Berkesadaran akan membuat kita peka akan hal itu.

Mahir adalah berdampak. Biasanya sikap ini lahir dari keinginan untuk membantu yang lain, untuk tidak ‘sibuk sendiri’ dalam kemahirannya. Atau lebih jauh lagi, untuk memiliki ‘purpose’ dalam karyanya.

Tentu saja ini adalah sikap yang baik. Lagi-lagi Berkesadaran mengingatkan bahwa dampakpun diizinkan. Berkesadaran juga mengingatkan bahwa berdampak bisa terlingkupi oleh ‘keakuan’. Inilah yang saya hasilkan.

Dampak, sebagaimana kondisi apapun, bersifat subyektif, dan tidak pernah merupakan hasil langsung dari upaya. Berkesadaran melatih sikap ini, tanpa kehilangan kepedulian untuk mahir, tanpa kehilangan kemalasan untuk belajar.

Mahir adalah bersertifikat. Proses mendapatkan proses sertifikat adalah proses ‘baik’, selain untuk menjaga kualitas kemahiran itu sendiri, juga untuk menjadi referensi bersama akan proses yang telah dijalani untuk mendapatkan suatu kemahiran.

Nah, berkesadaran pun akan membuat kita peka dengan sertifikat ini. Sertifikat menunjukkan makna bahwa kita mengikuti prosedur yang diminta untuk mendapatkan proses itu. Apakah prosedur tersebut memahirkan? Jawabannya akan memiliki spektrum analisa yang lebar sekali, tergantung konteksnya, yang tentunya berbeda satu dengan yang lain.

Pada akhirnya, berkesadaran mengingatkan bahwa belajar adalah perjalanan berlatih dan berserah. Tidak pernah bersifat ‘meng-aku-kan’, tak pernah mandiri, bersifat subyektif, dan tak pernah selesai.

Karenanya kemahiran adalah kondisi yang bersifat sama dari hasil belajar itu sendiri. Mahir adalah perjalanan, tak perlu pengakuan, tak pernah selesai, tak boleh bermalasan, dan senantiasa berbasiskan kepedulian. Pada akhirnya, mahir adalah proses alami sebagai bagian dari peran kita untuk menjalani perjalanan kembali.