Kompleksitas dalam Organisasi

25/06/2020, 13:21 WIB
Bagikan:
Penulis Admin | Editor Admin

Organisasi secara sederhana bisa didefinisikan sebagai kumpulan orang-orang yang terjalin untuk mengupayakan manfaat bagi diri dan sekitarnya berbasiskan keselarasan yang disepakati.

Dalam bahasa kekinian, struktur keterjalinan bisa dalam bentuk korporasi, usaha rintisan (startup), ataupun ekonomi musiman (gig economy) dimana keterjalinan yang ada bersifat sementara, dilakukan oleh pekerja lepas, dan bisa fokus pada keuntungan (profit), non keuntungan (non-profit), maupun yang menyelaraskan keduanya (all business are social[1]). Biasanya, ada dua hal yang selalu timbul ketika interaksi dalam suatu organisasi terjadi: kerumitan dan kompleksitas.

Kerumitan lahir dari hubungan antara sedikit atau banyak elemen dan bersifat statis. Ketika elemen-elemen tersebut berjumlah sangat banyak, maka diperlukan waktu untuk menelisik hubungan sebab akibat tersebut, dan bisa saja bersifat paralel atau membentuk umpan balik. Contoh kerumitan adalah interkonektivitas dari elemen-elemen pesawat terbang.

Disiplin keilmuan terkait diperlukan untuk menelusuri atau merancang sistem-sistem dengan kerumitan ini, dan pada akhirnya bisa diselesaikan. Istilah yang kami gunakan, kerumitan bisa diselesaikan oleh Metode, suatu pola yang bersikap bahwa sesuatu bersifat obyektif, bisa diukur, memerlukan rasio (analisa dan sintesa), serta diperlukan adanya keaktifan pelaku (aktor) untuk melakukan hal-hal tersebut.

Hal kedua yang juga timbul dalam organisasi adalah kompleksitas, yang lahir dari hubungan antara sedikit atau banyak elemen namun ia bersifat dinamis. Terlepas apakah elemen-elemen tersebut berjumlah banyak atau sedikit, kompleksitas hanya bisa dikelola, dan tidak dapat diselesaikan, sehingga diperlukan Non-Metode untuk mengelolanya.

Non-Metode adalah suatu pola yang bersikap bahwa sesuatu bersifat subyektif, bisa dirasa, memerlukan intuisi, serta memerlukan ketiadaan aktif dari pelaku - kami sebut sebagai pasif melalukan - untuk mengelola hal-hal tersebut. Contoh kompleksitas adalah hubungan antar manusia, atau bahkan antara keberadaannya dan kesejatiannya.

Berkesadaran akan melihat dualitas Metode dan Non-Metode ini sebagai keutuhan yang terkait satu sama lain, dan menyikapinya sebagai suatu paradoks - sesuatu yang tampak bertentangan namun perlu dijalankan sekaligus.

Dalam konteks organisasi, dan melihat contoh diatas, pesawat terbang memerlukan manusia untuk menerbangkannya, untuk menerima penumpang, menerbangkan pesawat, melayani, dan mengantarkannya hingga tempat tujuan.

Organisasi perlu Berkesadaran dan mencakup beberapa elemen utama: pemimpin yang sudah mengalami Berkesadaran sehingga percaya bahwa elemen ini diperlukan, para agen perubahan yang sedang berlatih dalam Berkesadaran yang sudah mulai merasakan manfaatnya serta percaya bahwa hal ini perlu dibumikan dalam konteks organisasi, dan keterjalinan antara pemimpin dan agen perubahan untuk menerapkannya dalam sistem operasi perusahaan serta menajamkan dalam bentuk budi (values) dan daya (competencies) baik untuk keseharian maupun pola-pola strategis.

 

[1] Lihat misalnya, HBR Januari 2013, Deborah Mills-Scofield, Every Business Is (Or Should Be) a Social Business