Herbal Nusantara, Warisan Budaya yang Diakui Dunia

29/06/2020, 17:12 WIB
Bagikan:
Penulis Nurfina Fitri Melina | Editor Dana Delani

 

Berbarengan dengan pandemi, racikan jamu empon-empon kembali menarik perhatian dan semakin diburu masyarakat dari berbagai kalangan.  Dipercaya berkhasiat untuk menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh, empon-empon biasanya terdiri dari beberapa tanaman herbal seperti jahe, kunyit, lengkuas, temulawak, temu kunci, dan lain-lain.

Indonesia memang dikenal memiliki tanah yang kaya dan mampu menghasilkan beragam tanaman herbal. Pengakuan dunia akan rempah Nusantara telah melalui perjalanan yang panjang, bahkan  sejak masa penjajahan.

Kekayaan Herbal Indonesia

Bangsa Eropa sudah mencium khasiat jamu Indonesia sejak abad 18. Ramuannya mengandung nilai ekologis, konservasi alam, kesehatan, tradisi, dan industri. Tak heran mereka tertarik untuk mengambil alih warisan budaya yang telah mengakar kuat dengan tradisi leluhur.

Dalam sebuah jurnal, dituliskan bahwa kegiatan mengonsumsi jamu oleh penduduk Indonesia, khususnya Jawa, banyak dijumpai sejak 1200 Masehi. Hal ini dibuktikan dengan adanya relief di Candi Borobudur yang menggambarkan konsumsi ramuan obat tradisional pada masa itu.

Penemuan artefak Cobek dan Ulekan –alat tumbuk untuk membuat jamu- yang saat ini bisa diihat di situs arkeologi Liyangan yang berlokasi di lereng Gunung Sindoro, Jawa Tengah juga menjadi fakta penguat bahwa masyarakat Nusantara sudah mengonsumsi jamu sejak zaman Kerajaan Mataram.

Seiring perkembangan zaman, ketenaran ramuan tradisional Indonesia sempat mengalami penurunan dengan hadirnya ilmu modern yang masuk ke Tanah Air. Namun, di masa penjajahan Jepang sekitar tahun 1940-an, popularitas racikan tanaman herbal Indonesia kembali muncul terlebih dengan dibentuknya Komite Jamu Indonesia.

Mengutip dari situs Indonesia.go.id, pada tahun 1974 hingga 1990 berbagai perusahaan jamu mulai banyak berdiri dan terus berkembang. Diadakannya pembinaan-pembinaan dan pemberian bantuan dari Pemerintah, membuat pelaku industri jamu dapat meningkatkan aktivitas produksi mereka.

Seiring perkembangan industri herbal Indonesia, pada tahun 1976, Indonesia untuk pertama kalinya mendapat kesempatan turut serta dalam Pameran Obat-obatan dan Peralatan Medis yang digelar di Berlin, Jerman. Pada pameran itu, Indonesia juga menjadi satu-satunya negara yang mewakili Asia.

Revolusi Industri, Jamu, dan Perusahaan Farmasi

Mengutip dari berita yang terbit di harian Kompas pada 1 Juli 1976, Drs. R Bambang Sutrisno yang kala itu menjabat sebagai Direktorat Pengawasan Obat Tradisionil Ditjen POM Depkes mengatakan, tanaman obat tradisional dan jamu Indonesia mendapat perhatian yang cukup besar. Bahkan, permintaan akan jamu racikan dan jamu berwadah kapsul semakin meningkat.

Kini, jamu masih diminati sebagian besar masyarakat Indonesia. Meskipun jamu gendong tidak lagi populer, dengan adanya perkembangan teknologi para pegiat industri herbal pun melakukan transformasi dengan mengolahnya menjadi produk sachetan.

Tak hanya itu, untuk mendorong pemanfaatan jamu secara luas di masyarakat, pada tahun 2015 Kementerian Kesehatan telah mencanangkan Gerakan Nasional Bugar dengan Jamu (Gernas Bude Jamu) yang hingga saat ini terus digaungkan.