Drive-in Cinema Bisa Jadi Obat Rindu Moviegoers di Fase New Normal

29/06/2020, 17:44 WIB
Bagikan:
Penulis Agung Dwi Ertato | Editor Agung Dwi Ertato

 

Sudah hampir tiga bulan lebih, bioskop tidak beroperasi lantaran pandemi Covid-19. Penutupan tersebut sebagai langkah antisipasi agar penyebaran virus SARS-CoV-2, penyebab pandemi, dapat dikontrol.

Bagi moviegoers, pandemi virus corona tipe baru benar-benar menjadi pukulan telak. Pecinta film tidak bisa menikmati keasyikan menonton bersama di gedung bioskop. Kendati sekarang banyak platform streaming film di ponsel pintar, keseruan menonton di bioskop masih tidak bisa tergantikan.

Selain itu, rencana beberapa film unggulan, seperti Black Widow dan No Time to Die, untuk tayang pada 2020 harus ditunda. Ini artinya, moviegoers pun harus bersabar lebih lama untuk menikmati film yang ditunggu-tunggu.

Sebenarnya, masih ada alternatif untuk dapat menonton film di layar lebar selain di bioskop. Pelaku bisnis hiburan dapat melirik drive-in cinema atau bioskop kendara sebagai alternatif bioskop konvensional.

Bioskop kendara bisa menjadi solusi, baik bagi pebisnis maupun moviegoers. Pebisnis tetap bisa menjalankan roda usaha, sedangkan penonton juga bisa kembali menikmati film di layar lebar.

Di Indonesia, model tontonan bioskop kendara mungkin lumayan asing. Sebab, tidak banyak pelaku bisnis hiburan yang melirik sektor ini.

Indonesia justru lebih mengenal tontonan layar tancap, yang sebenarnya hampir mirip dengan bioskop kendara. Perbedaannya, film di bioskop kendara ditonton dari dalam mobil masing-masing penonton dan umumnya layar bioskop sudah permanen.

Sementara itu, layar tancap tidak permanen dan penontonnya bisa menonton di mana saja dalam kawasan lapangan tempat layar tancap digelar.

Layar tancap mencapai masa emas pada dekade 1960-an hingga 1990-an. Pada rentang waktu tersebut, gedung bioskop memang sudah mulai bermunculan. Meski demikian, layar tancap lebih diminati masyarakat.

Selain karena lebih murah, layar tancap ini juga menjangkau ke desa-desa. Jadi, masyarakat desa yang belum bisa mengakses bioskop atau bahkan televisi akan memadati lapangan desa bila kelompok layar tancap sedang mampir di desanya.

Film-film yang diputar di layar tancap pun bukan film sembarangan. Film-film baru dari Indonesia maupun luar negeri turut diputar. Contohnya, seperti film-film aksi Barry Prima, film horor Suzanna, film komedi Warkop DKI, maupun film luar seperti Rambo.

Saking populernya, layar tancap kerap disebut dengan istilah misbar atau gerimis bubar. Hal ini lantaran konsep layar tancap adalah open air cinema. Saat gerimis, penonton pun pada tunggang langgang alias bubar mencari tempat berteduh.

Sayangnya, bisnis layar tancap tidak bisa bersaing dengan perkembangan teknologi. Kemunculan stasiun televisi dan gedung-gedung bioskop membuat pelaku industri ini makin terpojok dan akhirnya memilih gulung tikar.

Meski begitu, industri bioskop open-air ini tidak benar-benar hilang. Di Jakarta, layar tancap dihidupkan kembali oleh Misbar Jakarta. Beberapa kali Misbar Jakarta membuat pemutaran film ala layar tancap di rooftop gedung, seperti di JSC Hive.

Di Malang, pelaku bisnis layar tancap kenamaan, Hariadi, mengubah ruangan sederhana tempat menyimpan peralatan layar tancap menjadi Indonesian Old Cinema Museum.

Museum milik Hariadi merupakan museum sinema pertama di Indonesia yang dikelola perorangan. Koleksi-koleksi yang dipamerkan di Indonesian Old Cinema Museum merupakan sisa-sisa proyektor layar tancap yang masih bagus dan beberapa film yang kerap ia putar dulu.

Museum tersebut menjadi salah satu objek wisata di Malang. Utamanya, yang banyak tertarik berkunjung adalah mahasiswa dan turis asing.

Bioskop kendara

Berbeda dengan layar tancap, bioskop kendara (drive-in cinema) muncul di Indonesia lewat tangan pebisnis Ciputra. Teater kendara ini mulai dibangun Ciputra pada 1 April 1970 di Pantai Ancol—dulu bernama Pantai Binaria.

 

 Naskah Infografis: Aditya Mulyawan, Ilustrasi: Conisius Arya Hutama

Ide pembuatan bioskop kendara di Pantai Ancol muncul usai Ciputra berkunjung dari Amerika Serikat. Memang, konsep drive-in cinema berkembang di Negeri Paman Sam.

Bioskop kendara ini pertama kali muncul di Amerika pada 6 Juni 1933 di Kota New Jersey. Bisnis tontonan ini mencapai puncak pada dekade 1960-an. Saat itu, lebih dari 5.000 “teater” dibuka di penjuru Amerika Serikat. Hingga saat ini, bioskop kendara masih bisa dijumpai, meski jumlahnya tak sebanyak 70 tahun yang lalu.

Bioskop kendara bikinan Ciputra dibuka resmi untuk umum pada 11 Juli 1970. Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin, membuka secara resmi bioskop kendara yang bernama Jaya Antjol Drive-in Theatre. Dua film diputar saat peresmian, yakni How to Get Married dan The Outlaws.

Jaya Antjol Drive-in Theatre juga sempat dijadikan sebagai tempat konser musisi papan atas dunia. Salah satunya adalah konser Stevie Wonder pada 21 Mei 1988.

Pada awal 1990-an, masa jaya teater kendara milik Ciputra berakhir. Tempat tersebut diubah menjadi pusat perbelanjaan jeans karena adanya perubahan tren dunia.

Alternatif hiburan di new normal

Meski terkesan jadul, bioskop kendara dapat menjadi inovasi bisnis di new normal. Bioskop kendara boleh dikatakan bakal lebih aman dari paparan virus ketimbang gedung bioskop. Sebab, di bioskop kendara, film ditonton di dalam mobil sendiri.

Di Jerman, bioskop kendara mulai berkembang kembali selama masa pandemi. Banyak warga Jerman yang merasa jenuh dengan karantina mandiri memilih bioskop kendara sebagai hiburan.

Untuk lebih menjaga keamanan, penyelenggara bioskop kendara menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Tiap mobil sebelum masuk area disemprot disinfektan terlebih dahulu. Membeli tiket pun dilakukan secara daring untuk menghindari kontak fisik.

Di Negeri Paman Sam, bioskop kendara juga menunjukkan peningkatan peminat. Dikutip dari CNBC.com, pendapatan bisnis ini pun naik 40 persen hingga 95 persen selama masa pandemi dibandingkan waktu biasa.

Melihat kesuksesan di mancanegara, pelaku bisnis hiburan di Indonesia pun tertarik membawa konsep bioskop kendara ke Tanah Air.

PT Lippo Cikarang Tbk lebih dulu membuka bioskop kendara di Meikarta, Cikarang. Bioskop tersebut sudah mulai dibuka sejak 5 Juni hingga 30 Juni 2020. Namun, karena animo tinggi, penyelenggara akan memperpanjang hingga 19 Juli mendatang.

Bioskop kendara milik Lippo Cikarang memiliki kapasitas hingga 100 mobil. Tiap hari, tiga sampai empat film diputar di lapangan Meikarta District 1.

Tarif yang harus dibayar sebesar Rp 100.000 untuk satu mobil. Tiket tersebut sudah termasuk paket makanan yang disediakan penyelenggara.

Selain Lippo Cikarang, perusahaan event organizer Ergo and Co. (EO) juga berniat membuka bioskop kendara. Bahkan, EO sudah woro-woro ke masyarakat sejak Mei 2020.

Rencananya, bioskop kendara milik EO akan dibuka pada minggu kedua Juli 2020 di Kaveling Tapal Kuda Edutown 2, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan.

EO akan menggunakan layar LED berukuran 24 x 20 meter di lahan seluas 2,5 hektare. EO menjanjikan kualitas video maupun audio tetap bagus meski dinikmati dari dalam mobil.

Untuk tiket, EO mematok harga Rp 350.000. Tiket tersebut belum termasuk makanan dan minuman. Namun, tiket sudah termasuk layanan pencucian mobil dan masker gratis.

Protokol kesehatan seperti di Jerman akan dijalankan pihak EO. Mobil akan disemprot disinfektan dan penjualan tiket dilakukan secara daring.

Kehadiran drive-in cinema tentu dapat menjadi obat rindu menonton film di layar lebar di masa pandemi. Bila bioskop kendara ini berhasil, kemungkinan besar bisnis pertunjukkan akan mengopi konsep menikmati hiburan seperti bioskop kendara.

Misalnya saja bisnis konser musik. Di fase new normal, konser musik bisa saja kembali dinikmati di dalam mobil. Rencana konser musik seperti itu juga sedang digodok oleh Berlian Entertainment.

Nantinya, bakal banyak inovasi-inovasi bermunculan di kenormalan baru. Inovasi ini sebagai bentuk “hidup berdamai” dengan Covid-19 hingga vaksin dan pengobatan efektif benar-benar ditemukan.

Tip aman menonton bioskop maupun konser kendara

Meski konsep bioskop maupun konser kendara dianggap lebih aman dari paparan virus, kamu tetap harus menggunakan protokol kesehatan untuk meminimalisasi risiko tertular.

Berikut tip aman yang bisa digunakan saat menonton bioskop maupun konser kendara.

  • Pastikan kamu maupun keluarga sedang dalam kondisi fit saat hendak menonton. Jangan pergi bila sedang sakit karena berisiko tertular penyakit.
  • Pastikan tempat hiburan, seperti drive-in cinema, yang kamu kunjungi menerapkan protokol kesehatan ketat.
  • Gunakan masker dan/atau pelindung muka dari mika (face shield) saat keluar menonton.
  • Sediakan hand sanitizer di mobil.
  • Hindari menggunakan uang tunai untuk bertransaksi. Sebaiknya siapkan saldo dompet digital dan uang elektronik atau bisa menggunakan kartu debit/kredit.
  • Bawa bekal makan dari rumah akan lebih baik.
  • Setelah sampai di rumah, segera mandi dan letakkan pakaian kotor di tempat cucian.