Mau Naik Gunung, Hati-hati dengan Hipotermia dan Cari Tahu Penanganannya

08/07/2020, 21:16 WIB
Bagikan:
Penulis Nana Triana | Editor Mikhael Gewati

Serangan hipotermia merupakan salah satu serangan yang sering dikhawatirkan para pendaki saat menjejakan kakinya di puncak gunung.

Dikutip dari buku Mountaineering-The Freedom of the Hills karangan Edelstein, Li, Silverberg, dan Decker (2009), hipotermia adalah suatu kondisi ketika mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin.

Biasanya, pada kondisi ini suhu tubuh berada di bawah 35 derajat celcius atau sekitar 95 derajat fahrenheit. Tubuh manusia mampu mengatur suhu pada zona termonetral, yaitu antara 36,5-37,5 derajat celcius.

Dalam buku yang mahsyur di kalangan pendaki tersebut, hipotermia masuk dalam kategori exposure, yaitu kelelahan fisik yang disebabkan keadaan alam atau lingkungan.

Banyak kasus meninggalnya pendaki karena mengalami hipotermia akibat salahnya penanganan dan kurangnya pemahaman tentang hipotermia.

Oleh karena itu, mengetahui penyebab hipotermia, gejala dan cara merawat pasien sangat diperlukan, karena bisa saja kamu menemui fenomena ini di saat tak terduga.

Hipotermia tidak hanya terjadi saat seseorang berada di atas gunung atau tempat dingin. Ada berbagai hal yang bisa memicu hipotermia. Salah satunya terlalu lama berada di dalam air.

Untuk gejala, biasanya kamu akan mendapati rasa mengigil ketika suhu tubuh mulai menurun. Hal tersebut bisa menjadi pertahanan otomatis tubuh kamu terhadap suhu dingin atau upaya untuk menghangatkan diri.

Seseorang yang hipotermia biasanya tidak menyadari kondisinya karena gejala yang dirasakan seringkali dimulai secara bertahap. 

Pertolongan pada korban Hipotermia

Ketika menjumpai pendaki yang mengalami hipotermia, tidak perlu panik. Kamu bisa langsung segera melakukan pertolongan agar kondisinya tidak semakin memburuk.

Salah satu tindakan pertolongan bisa dengan metode "skin to skin" atau cara menghangatkan tubuh seseorang dengan kulit yang menyentuh kulit korban hipotermia.

Melansir Kompas.com, (23/7/2019) Kepala Bagian Humas Badan SAR Nasional (Basarnas), Suhri Sinaga menyampaikan, metode tersebut dilakukan dengan saling berpelukan tanpa memakai pakaian di dalam sleeping bag agar suhu tubuh kembali normal.

Cara ini dilakukan dengan mempertimbangan kedua orang atau lebih memiliki jenis kelamin yang sama atau pasangan suami-istri, agar tidak terjadi tindakan asusila.

Jika tidak ada sleeping bag, bisa menggunakan selimut, terutama untuk menghangatkan bagian dada dan kepala korban terlebih dahulu.

Apabila korban hipotermia mengenakan pakaian yang basah, lepas dan diganti terlebih dahulu dengan pakaian kering.

Selain itu, penanganan korban hipotermia bisa juga dengan memberi makanan atau minuman hangat. Ini bisa dilakukan ketika kondisi tubuh korban mampu membuka mulut atau sudah tidak kaku.

Cara lain yang bisa dilakukan, yaitu memindahkan korban hipotermia ke ruangan kering dan hangat dengan gerakan pelan agar tidak memicu detak jantung yang tidak teratur.

Namun, jika korban hipotermia dalam keadaan tidak sadarkan diri dan masih dirasakan denyut nadi dan hembusan napas, segera hubungi bantuan darurat.

Penanganan dengan resusitasi jantung paru (CPR) bisa dilakukan dengan mengecek denyut nadi dan denyut jantung terlebih dahulu. Jika denyut jantung masih terasa, maka tidak perlu melakukan CPR.

Tindakan medis dengan CPR ini harus dilakukan tanpa istirahat sampai denyut nadi atau denyut korban terasa, atau bisa juga sembari menunggu paramedis datang.

Awas salah dalam mengantisipasi Hipotermia

Kondisi tubuh yang mengalami hipotermia tidak bisa dianggap enteng. Oleh karena itu, perlu penanganan yang cepat dan tepat agar kondisi korban tidak kian memburuk.

Sejumlah hal yang perlu diperhatikan dan sebaiknya dihindari saat mengatasi korban hipotermia antara lain jangan menghangatkan tubuh mulai dari tangan dan kaki, karena bisa memicu syok pada korban.

Kemudian, jangan memijat bagian kaki dan tangannya. Hindari merendam tubuh korban dengan air hangat atau panas, dan juga jangan berikan alkohol atau minuman berkafein.

Selanjutnya, tidak dianjurkan menggunakan lampu pemanas yang digunakan untuk menghangatkan tubuh korban. Jika korban tidak sadarkan diri sebaiknya hindari memberikan makanan dan minuman untuk dikonsumsi.