Langkah Cerdas Ajari Balita agar Terhindar dari Bullying

09/07/2020, 18:37 WIB
Bagikan:
Penulis Fathia Yasmine | Editor Mikhael Gewati

Belakangan ini, publik kembali dihebohkan dengan munculnya kasus perundungan atau bullying yang terjadi pada artis Korea Selatan Kwon Mina. Ia mengaku menjadi korban bullying yang dilakukan rekan kerjanya saat masih menjadi member grup AOA.

Menurut Mina, tindakan bullying ini dilakukan selama hampir 10 tahun secara fisik dan mental. Ia pun mengunggah bukti video dan foto di media sosial. AOA sendiri merupakan girl band yang mulai dikenal sejak 2012.

Hal ini tentu mengagetkan bagi banyak orang, sebab para selebritis sangat jarang mengungkapkan kasus bullying yang dilakukan oleh rekan sesama profesi. Terutama dalam kasus bullying yang cukup lama.

Ya, bullying memang bisa mengenai siapa saja tanpa mengenal status sosial maupun usia korbannya. Bullying juga dapat mengakibatkan trauma bagi korban, terutama jika terjadi di kalangan remaja dan anak.

Dikutip dari Eyes on Bullying in Early Childhood, bullying juga bisa muncul pada usia balita. Hal inilah yang menyebabkan pentingnya peran orangtua untuk memberikan edukasi sekaligus melakukan pencegahan sejak dini agar anak terhindar dari kasus bullying di masa mendatang.

Meski begitu, anak usia balita belum mampu memahami konsep bullying secara mendalam, sehingga diperlukan pendekatan yang sesuai agar mudah diingat si kecil.

Lalu, bagaimana langkah tepat untuk mengedukasi balita di tengah usianya yang masih dini?

1. Jelaskan tentang bullying

Pada usia balita, anak pasti belum mengerti akan istilah maupun jenis tindakan bullying. Oleh sebab itu, orangtua dapat menjelaskan secara perlahan dengan istilah dan contoh sederhana.

Misalnya dengan mengajarkan anak untuk menghargai temannya ketika bermain dan tidak melakukan tindakan fisik jika merasa marah.

Orangtua juga dapat menceritakan kisah sederhana, seperti bagaimana perasaan ibu bila dimarahi orang lain atau pentingnya mengucapkan terima kasih agar orang lain merasa senang.

Jelaskan kepada anak, jika tindakan bullying dapat melukai perasaan orang lain dan tidak baik untuk dicontoh.

2. Jenis-jenis bullying

Setelah anak mengetahui tentang latar belakang bullying, berikan informasi terkait jenis-jenis bullying kepada si buah hati.

Diantaranya, yaitu bullying verbal dengan menggunakan kalimat, bullying physical melalui tindakan fisik, hingga bullying relational dengan menghasut atau mengajak teman.

Setelah itu, berikan pemahaman pada anak untuk tidak larut apabila menemui teman yang melakukan tindakan bullying.

Ajarkan juga agar anak berani proaktif bila menemui situasi bullying dengan berbicara pada orang yang lebih tua.

3. Jadilah panutan

Anak merupakan duplikat dari orangtua, sebab mereka mencontoh beragam perangai dan sifat sang orangtua dalam masa pertumbuhannya.

Untuk itu, orangtua perlu menjadi sosok panutan bagi anak, agar anak terbiasa bersikap baik dan menghormati sesama temannya.

Salah satu contohnya, yaitu dengan rutin menanyakan kondisinya sehari-hari dan tidak mengacuhkan anak ketika membutuhkan perhatian.

Hal ini dapat menimbulkan kepercayaan pada anak bahwa orangtua adalah tempat yang tepat untuk berbagi cerita.

4. Ajarkan anak untuk berani melawan

Meski orangtua telah memberikan edukasi, anak juga masih berisiko menjadi korban bullying. Dengan begitu ajarkan anak agar berani melawan ketika mendapatkan perlakuan bullying.

Perilaku bullying tentu menjadi tantangan bagi seluruh orangtua maupun masyarakat dalam menghadapinya. Namun hal ini bisa dicegah dengan memberikan pengertian dan perhatian pada anak, sehingga kejadian bullying dapat ditekan dan dicegah mulai dari rumah.